Bencana kekeringan parah melanda lahan pertanian di wilayah perbatasan tiga kecamatan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang meliputi Kecamatan Bayongbong, Sukaresmi, dan Pasirwangi. Akibat fenomena ini, sekitar 42 hektare tanaman padi milik petani dilaporkan mengalami gagal panen atau puso.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim survei dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung yang langsung mendatangi lokasi pada Jumat (9/10/2026). Peninjauan lapangan tersebut dipimpin oleh perwakilan tim, Syahid Abdulgani.
Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, pria yang akrab disapa Gani tersebut mengungkapkan bahwa penyebab paling krusial dari gagal panen massal ini adalah ketiadaan infrastruktur pengairan yang memadai. Selama ini, para petani di wilayah perbatasan tiga kecamatan tersebut menggarap lahan tanpa ditopang sarana irigasi yang layak, sehingga sawah mereka langsung terdampak begitu kemarau datang.
Menanggapi persoalan tersebut, Gani menyatakan pihaknya akan segera menyusun laporan resmi kepada pimpinan BBWS Cimanuk-Cisanggarung. Langkah ini diambil agar temuan tersebut dapat menjadi dasar pertimbangan untuk pembenahan infrastruktur pengairan ke depan, guna mencegah kejadian serupa berulang pada tahun-tahun berikutnya.
Kondisi ini turut mengundang keprihatinan dari Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi. Ia menilai musibah ini menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para petani setempat, sekaligus mengancam ketahanan pangan masyarakat di kawasan Bayongbong, Sukaresmi, dan Pasirwangi.
Mulyono menyebut peristiwa kali ini tergolong ke dalam bencana kekeringan ekstrem yang semestinya dapat ditekan risikonya jika ada upaya mitigasi terencana dari jauh-jauh hari. Ia menyayangkan minimnya mitigasi kekeringan di wilayah tersebut dan berharap pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung bersama pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata demi melindungi keberlangsungan usaha tani masyarakat.
