BerandaBencanaSekda Jabar Ingatkan Relawan Kebencanaan Wajib Kuasai Pengetahuan dan Keterampilan

Sekda Jabar Ingatkan Relawan Kebencanaan Wajib Kuasai Pengetahuan dan Keterampilan

-

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengingatkan relawan kebencanaan agar tidak hanya mengandalkan keberanian dan semangat kemanusiaan. Menurutnya, relawan juga harus memiliki pengetahuan, pengalaman, keterampilan, serta kemampuan membaca situasi agar bantuan yang diberikan tidak menimbulkan persoalan baru.

Pesan itu disampaikan Herman saat menjadi Pembina Upacara sekaligus membuka Jambore Relawan Kebencanaan Tahun 2026 di Kampung Bamboo, Jalan Padasuka KM 04, Kampung Sukasari, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (12/9/2026). Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Bambu Dunia.

Herman mengatakan Jawa Barat membutuhkan banyak relawan dengan jiwa kemanusiaan. Namun, semangat membantu harus disertai kapasitas yang memadai karena kondisi bencana bersifat dinamis dan memiliki risiko tinggi.

“Kita membutuhkan relawan. Tetapi kita membutuhkan relawan yang punya pengetahuan dan relawan yang punya pengalaman. Jangan sampai niatnya menolong, tetapi di lapangan justru relawan yang harus ditolong,” ujar Herman.

Ia menyebut jambore tersebut menjadi kesempatan bagi relawan untuk meningkatkan kemampuan, antara lain dalam pencarian dan pertolongan, kesehatan, logistik, serta berbagai keterampilan lain yang diperlukan saat penanganan bencana. Herman juga menekankan bahwa pengalaman dapat dipelajari dari orang lain tanpa harus menunggu mengalami kejadian bencana secara langsung.

Selain kemampuan teknis, Herman meminta relawan memiliki kepekaan terhadap potensi bahaya melalui deteksi dini dan lapor dini. Setiap kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya, kata dia, harus segera dikenali dan dilaporkan agar dapat ditangani dengan cepat.

Herman juga menjelaskan pentingnya memahami karakter bencana yang semakin kompleks melalui konsep VUCA, yaitu volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Perubahan yang cepat perlu dihadapi dengan vision, ketidakpastian dengan understanding, kompleksitas dengan clarity, sedangkan situasi yang tidak jelas memerlukan agility melalui komunikasi dan koordinasi yang baik.

Untuk memahami kondisi di lapangan, relawan dapat menggunakan prinsip 5W+1H, meliputi apa yang terjadi, lokasi kejadian, waktu, pihak yang terdampak, penyebab, serta langkah yang harus dilakukan. Ia mendorong relawan bekerja berdasarkan data dan pendekatan ilmiah agar pertolongan berlangsung efektif serta tetap menjamin keselamatan relawan dan masyarakat.

“Jadilah relawan yang berbasis data dan berbasis ilmiah. Insyaallah, teman-teman relawan akan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” kata Herman.

Ketua Pelaksana Jambore Relawan Kebencanaan Tahun 2026 Dede Koswara mengatakan, kegiatan yang berlangsung pada 11-13 September 2026 itu menjadi sarana silaturahmi, peningkatan kapasitas, pertukaran pengalaman, dan penguatan sinergi antarelawan kebencanaan.

Jambore tersebut diikuti 453 peserta dari kalangan pelajar SMA dan SMK, organisasi, serta komunitas kebencanaan dari berbagai wilayah di Jawa Barat. Kegiatan itu juga diikuti perwakilan dari Palembang. Jika ditambah pendamping dan unsur pendukung lainnya, jumlah peserta dan pendamping mencapai sekitar 550 orang.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti registrasi dan orientasi, pembukaan, penguatan materi kerelawanan, pelatihan dan praktik, simulasi lapangan, kegiatan kebencanaan, edukasi, serta konservasi. Rangkaian acara ditutup dengan evaluasi dan penutupan.

Dede berharap jambore tersebut tidak hanya menambah pengetahuan dan keterampilan peserta, tetapi juga memperkuat jejaring serta kebersamaan dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Ia menilai penanggulangan bencana membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan sinergi dari berbagai pihak.

“Kami berharap Jambore ini dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dan membangun relawan yang tangguh, terampil, solid, serta siap membantu masyarakat ketika terjadi bencana,” ujar Dede.

Ia menegaskan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas dan memperkuat persaudaraan relawan. Dede juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, instansi terkait, organisasi dan komunitas relawan, narasumber, fasilitator, dewan juri, sponsor, mitra kegiatan, panitia, serta seluruh peserta yang mendukung pelaksanaan jambore.

“Mari kita bersama-sama membangun relawan tangguh Jawa Barat yang siaga dan masyarakat yang berdaya menghadapi bencana,” pungkasnya.

Related articles

Latest posts